Follow by Email

Rabu, 07 Desember 2011

psikologi faal


LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI FAAL

Nama Mahasiswa                    :     
Nomor Mahasiswa                  :     10013021
Jenis Kelamin                          :     Laki-laki
Umur                                       :     18 Tahun
Pendidikan                              :     Mahasiswa
Nama Percobaan                     :     Astigmatisme
Nomor Percobaan                   :     I
Nama Orang Percobaan (OP) :   
Nama Pelaku Percobaan (PP) :     
Tanggal Percobaan                  :     17 Oktober 2011
Waktu Percobaan                    :     08.00 – 10.00 WIB
Tempat Percobaan                   :     Laboratorium Psikolgi Faal
                                                      Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
 

I.          TUJUAN PERCOBAAN
1.      Untuk mengetahui kemungkinan adanya astigmatisme yang disebabkan oleh kelainan di dalam lengkung cornea.
2.      Untuk mengetahui kemungkinan seseorang mengalami astigmatisme total dari mata.

II.        DASAR TEORI
Pada dasarnya proses penglihatan kadang-kadang terjadi kelainan. Salah satu bentuk kelainan mata tersebut adalah astigmatisme.
Astigmatisme adalah satu bentuk kesalahan refraksi sistem lensa mata yang biasanya disebabkan oleh cornea mata yang berbentuk bujur atau jorong-jorong oleh lensa yang berbentuk bujur (Guyton, 183). Astigmatisme dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1.      Astigmatisme Reguler
Ini ditandai dengan ketidaksamaan refraksi pada bidang yang satu dengan bidang yang lain, astigmatisme jenis ini dibagi menjadi tiga macam yaitu :
a.       Astigmatisme Reguler
Untuk mengatasinya digunakan lensa silindris yang dipasang secara tegak lurus dengan bidang vertikal.
b.      Astigmatisme Reguler Horizontal
Penanggulangannya tetap menggunakan lensa silindris, namun cara memasangnya tegak lurus dengan bidang horizontal.
c.       Astigmatisme Miring
Lensa silindris yang dipasang pada bidang miringnya merupakan upaya untuk mengorekal.
2.      Astigmatisme Irreguler
Pada jenis ini refraksi cahaya pada suatu bidang meridian yang terdapat pada mata tidak sama, ini disebabkan bekas luka pada cornea.
Sebab lain terjadinya astigmatisme ini karena adanya tekanan yang terus menerus dari kelopak mata terhadap bola mata, sehingga menyebabkan perbedaan pembiasan antara bidang meridian dan bidang horizontal dari lensa mata, karena perbedaan ini bayangan tidak terjadi terbentuk pada suatu tempat.
astigmatisme
Gambar 1. Horizontal line out of focus
astigmatisme
Gambar 2. Astigmation corrected by lens
Cornea merupakan dinding ujung muka bulbus caili atau bola mata cahaya yang masuk, cornea diatur oleh diameter biji mata atau pupil yang cara kerjanya seperti kamera. Menurut Linsting dan Bonders titik simpul yang terletak 5 mm di belakang cornea. Derajat lengkung yang melalui sumbu panjang tidak sama dengan derajat lengkung pada bidang yang melalui sumbu pendek. Sehingga cahaya masuk mengenai bagian perifer bidang lain, maka terjadilah astigmatisme.
Mata secara anatomi terdiri dari :
1.      a.   Oculus
b.   Nervua opticus adalah syaraf-syaraf pada mata yang akan membawa gelombang, syaraf tersebut ke otak. Kelainan pada syaraf ini akan mengakibatkan gangguan penglihatan.
c.   Bulbua occuli dan tunica (selubung) dan isi adalah bola mata yang terpisah dari pelengkap, bulbus oculli terdiri dari dinding melampirkan rongga berisi cairan dengan tiga mantel di sclera, kroid dan retina.
2.   Alat tambahan (otot-otot atau muscular rectis)
a.       Superior
b.      Inferior
c.       Lateralia
d.      Musculua obiqueus inferior
e.       Musculua obiqueus superior
Tunika (selubung) memiliki dua lapisan yaitu :
a.       Tunika fibrosa (paling luar) :
1)      Cornea      :     sebelah depan
2)      Sclera        :     putih
3)      Sclera        :     di samping dari belakang
4)      Cornea      :     transparan
b.      Tunika vasullosa (lapisan tengah) mengandung pembuluh darah, terdiri dari :
1)      Chlorida
2)      Corpiva charis
3)      Tria (selaput bening)
c.       Tunika nervosa (lapisan paling dalam) mengandung reseptor, terdiri dari : sistem pigmentasi dan retina (dalam).
Ada tidaknya kelainan pada cornea mata dapat diuji dengan alat yang bernama keratoskop dari placido, yaitu : alat yang terdiri atau lingkaran konsentria hitam yang digambar pada dasar putih. Selain itu ada juga dengan menggunakan lukisan dari garis-garis yang tersusun seperti kipas. Dan sudut di antara dua garis sebesar 10 derajat.

III.       ALAT YANG DIGUNAKAN
1.      Keratoskop dari placido
2.      Lukisan kipas

IV.       JALANNYA PERCOBAAN
1.      Lengkung cornea
Orang Percobaan (OP) disuruh berdiri dengan punggung ke arah cahaya yang terang, keratoskop ditempatkan kira-kira 20 cm di muka mata Orang Percobaan (OP), kemudian orang yang memeriksa melihat melaui lubang di tengah-tengah keratoskop yang ada pada dataran muka Orang Percobaan.

2.      Pada astigmatisme total pada mata
Orang Percobaan (OP) dapat melihat sendiri, dengan melihat dengan satu mata ke lukisan kipas (garis-garis yang tersusun sebagai kipas).

V.        HASIL PERCOBAAN
1.      Lengkung cornea
Orang yang memeriksa melihat melalui lubang yang terdapat keratoskop yang ditempatkan kira-kira 20 cm di muka mata Orang Percobaan (OP) terlihat lingkaran-lingkaran bulat teratur.
2.      Astigmatisme total dari mata
Pada percobaan yang kedua, Orang Percobaan (OP) menutup satu mata ke lukisan kipas, Orang Percobaan (OP) melihat jelas lukisan kias tidak ada bayangan yang kabur.

VI.       KESIMPULAN
Pada dasarnya proses penglihatan kadang-kadang terjadi kelainan. Salah satu bentuk kelainan mata tersebut adalah astigmatisme. Astigmatisme adalah suatu bentuk kesalahan refraksi sistem lensa mata yang biasanya disebabkan oleh cornea mata yang berbentuk bujur atau jorong-jorong oleh lensa yang berbentuk bujur.
Pada percobaan lengkung cornea, diketahui bahwa Orang Percobaan (OP) tidak memiliki gangguan penglihatan astigmatisme, karena orang yang memeriksa telah melihat melalui keratoskop yang dilakukan kira-kira 20 cm di depan Orang Percobaan (OP) berupa lingkaran-lingkaran bulat teratur.
 Pada percobaan astigmatisme total, diketahui bahwa Orang Percobaan (OP) tidak mengalami astigmatisme total karena pada waktu melihat lukisan yang berupa garis-garis tersusun sebagai kipas dapat melihat dengan jelas tanpa adanya pembiasan.


VII.     APLIKASI
Dalam hubungan profesi, tidak adanya astigmatisme pada mata sangatlah penting seperti :
1.      Dalam bidang kedokteran
2.      Dalam bidang industri tekstil
3.      Seseorang yang berprofesi seperti pelukis


Yogyakarta, 17 Oktober 2011
Praktikan,


Asisten      : 
Nilai          :



DAFTAR PUSTAKA


Atkinson, Hilgard, Ernest.1994. Pengantar Psikologi. Jakarta ; Airlangga

Bagian Laporan Fakultas Psikologi Universitas Ahamad Dahlan.1997. Buku Pedoman Praktikum Psikologi Faal II. Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

Ganong, W. F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Bagian II. Edisi V. Jakarta: CV.EGC.

Guyton Arthur, C. 1983. Buku Teks Fisiologi Kedokteran Bagian II. Edisi V. Jakatra : CV.EGC.

Ronodikoro, Sipidjo. 1986. Antropologi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.





















LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI FAAL

Nama Mahasiswa                    :   
Nomor Mahasiswa                  :     10013021
Jenis Kelamin                          :     Laki-laki
Umur                                       :     18 Tahun
Pendidikan                              :     Mahasiswa
Nama Percobaan                     :     Reaksi Pupil
Nomor Percobaan                   :     II
Nama Orang Percobaan (OP) :     
Nama Pelaku Percobaan (PP) :     
Tanggal Percobaan                  :     31 Oktober 2011
Waktu Percobaan                    :     08.00 – 10.00 WIB
Tempat Percobaan                   :     Laboratorium Psikolgi Faal
                                                      Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
 

I.          TUJUAN PERCOBAAN
1.      Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada pupil karena cahaya.
2.      Untuk melihat reaksi pupil pada akomodasi dan konvergensi.

II.        DASAR TEORI
Syaraf dalam mata manusia ada dua yaitu saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Serabut preganglion parasimpatis muncul dari nucleus Edinger-Westphal (nuliviseral dari syaraf ketiga) dan kemudian berjalan dalam syaraf ketiga ke ganglion siliandris yang terletak tepat di belakang mata. Di sini serabut preganglion bersinapsis dengan neuron parasimpatis panjang honik yang kembali mengirimkan serabut-serabut melalui nervus siliandris ke dalam bola mata. Nervus ini merangsang :
1.      Otot siliandris yang mengatur lensa untuk berfokus
2.      Sfingter iris yang mengatur mengkoneksi pupil
Jika cahaya disinari ke dalam mata, pupil akan mengecil ini disebut reflek cahaya pupil. Bila cahaya mengenai retina maka terjadi impuls yang mula-mula berjalan ke nervus opticus dan kemudian ke nukleus protektalis. Dari sini impuls berjalan nukleus Edinger-Westphal dan akhirnya kembali melaui syaraf parasimpatis untuk mengkoneksikan sfinger itu. Dalam keadaan gelap reflek ini dihambat sehingga mengakibatkan dilatasi pupil.
Ternyata pupil dapat berkonsentrasi lebih lama difikasi dekat objek dirangsang melalui beberapa jalan semisal bila mata difikasi dekat objek sinyal yang menyebabkan, konvergensi kedua mata menimbulkan penyempitan pupil dalam derajat sedang pada waktu yang sama hal ini disebut reaksi pupil untuk akomodasi.
Mata yang normal adalah mata yang mampu melihat objek dengan baik. Supaya dapat melihat objek dengan baik maka harus terjadi bayangan, di retina bayangan ini harus mampu melihat objek dengan media mata dan otak. Pada Retina bayangan ini harus dapat dihantarkan ke otak yaitu di korteks visual dan vissura calcatina. Proses terlihat suatu benda adalah objek tadi memantulkan sinar atau cahaya kemudian terjadi bayangan di retina. Bayangan itu harus dapat dihantarkan ke otak dan menimbulkan impuls syaraf untuk dikirim ke visura calcatina yang menyangkut juga perubahan kimia. Atau yang sering disebut fotoreseptor rhedopsin, di sel-sel conus dan bacillus.
Bola mata atau mata sendiri merupakan alat indra yang sangat kompleks dan peka terhadap stimulus cahaya. Sedangkan bola mata mempunyai garis menegah kira-kira 2,5 cm.
Defanya bening serta dari tiga lapisan, yaitu :
1.      Lapisan Luar Fibrus yang merupakan lapisan penyangga
2.      Lapisan tengah vascular
3.      Lapisan dalam syaraf
Dalam reaksi pupil bagian yang paling berpengaruh adalah pada bagian tunica musculata pada bagian iris, karena iris berfungsi mengatur besar kecilnya pupil, sehingga intensitas cahaya yang masuk ke dalam mata dapat diatur. Kemampuan akomodasi seseorang berkaitan dengan cahaya yang datang, bila cahaya dekat mata, mata akan mengembang, juga sebaliknya reflek mata merupakan reaksi terhadap stimulus yang terjadi diluar kehendak dimana fungsinya menghindarkan diri dari perasaan yang tidak menyenangkan, reaksi membesar dan mengecilnya pupil menghindari intensitas cahaya yang terlalu besar yang tidak baik pada mata kita.
Reflek-reflek mata antara lain :
1.      Reflek Pupil
Bila cahaya yang masuk ke mata cukup terang atau kuat maka pupil mengecil. Hal ini bertujuan untuk menghalangi atau mengurangi cahaya yang masuk supaya tidak terlalu banyak.
2.      Reflek Mengejap
Reflek ini menghindari kekeringan dan untuk menghindari cahaya yang mengejap kelopak mata.
3.      Reflek Konsensual
Gerak reflek ini terjadi pada kedua mata apabila salah satu mata terjadi pembesaran atau pengecilan pupil karena intensitas cahaya tertentu maka pada mata yang satu juga terjadi penyesuaian pembesaran pupil atau pengecilan pupil. Dengan kata lain jika salah satu pupil membesar atau mengecil maka pupil mata yang lain akan mengikuti secara bersamaan.
pupil
Gambar 1. Mata
eye_cutaway
Gambar 2. Anatomi mata

Gambar 3. Flash light untuk menyinari mata
Pupil adalah celah lingkaran yang dibentuk oleh iris, di belakang iris terdapat lensa. Pupil dapat mengecil pada akomodasi dan konversi. Akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mencembung akibat kontraksi otot siliaris. Otot siliaris atau otot polos dapat merenggang dan mengendorkan selaput yang menggantungkan lensa akomodasi dapat menyebabkan daya pembiasan lensa bertambah kuat. Selain akomodasi terjadi konveksi sumbu penglihatan dan kontriksi pupil bila sesesorang melihat benda yang dekat.
Mengecilnya pupil karena cahaya ialah lebarnya pupil diatur oleh iris sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh mata. Di tempat yang gelap di mana intensitas cahaya kecil maka pupil akan membesar, agar cahaya dapat lebih banyak masuk ke mata. Di tempat yang sangat terang di mana intensitas cahayanya cukup tinggi atau besar maka pupil akan mengecil, agar cahaya lebih sedikit masuk ke mata untuk menghindari mata agar tidak selalu mengarah kesalahan satu mata pupil. Bila mata diarahkan kesalahan satu mata pupil akan berkontraksi, kejadian tersebut dinamakan reflek cahaya pupil. Reflek dapat dilihat mengecil dan membesarnya pupil. Akomodasi adalah perubahan dalam lekukan lensa mata dalam menanggapi satu perubahan dalam melihat jarak dan kemampuan berakomodasi disebut tempo akomodasi. Daya akomodasi mata diatur melalui syaraf parasimpatis, perangsangan syaraf parasimpatis menimbulkan kontraksi otot siliaris yang selanjutnya mengendorkan ligamen lensa dan meningkatkan daya bias. Dengan meningkatkan daya bias, mata mampu melihat objek lebih dekat dibanding waktu daya biasnya rendah. Akibat dengan mendekatnya objek ke arah mata frekuensi impuls parasimpatis kedotsilitas progresif ditingkatkan agar objek tetap dilihat dengan jelas.   


Gambar 4. Mengecilnya pupidan membesarnya pupil

III.       ALAT YANG DIGUNAKAN
1.   Cermin
2.   Flash Light
3.   Tabung sepanjang 15 cm dengan lubang pada dasarnya

IV.       JALANNYA PERCOBAAN
1.      Mengecilnya pupil pada akomodasi dan konvergensi.
a.   Orang percobaan sendiri dapat melihat melalui cermin, mula-mula orang percobaan melihat jauh di dalam cermin, kemudian secara tiba-tiba dan sekonyong-konyong melihat bayangan orang percobaan dalam cermin.
b. Pelaku percobaan melihat mengecilnya pupil ini pada orang percobaan. Orang percobaan disuruh melihat jauh kemudian sekonyong-konyong orang percobaan disuruh melihat jari pelaku percobaan yang ditempatkan lebih kurang 20 cm di sepanjang mata orang percobaan.
2.      Mengecilnya pupil karena cahaya
a.   Orang percobaan disuruh melihat ke tempat yang terang kemudian disuruh menutup matanya. Setelah beberapa saat disuruh membuka matanya. Apa yang terjadi?
b.   Orang percobaan disuruh melihat ke tempat yang terang satu mata ditutup dengan tangan. Apa yang terjadi dengan mata yang ditutup? Kemudian mata yang ditutup tadi dibuka bagaimana reaksi pupil mata yang lain?
c.   Pada Anda sendiri satu mata ditutup dengan tangan, di muka mata lain ditempatkan sebuah tabung sepanjang 15 mm yang pada dasarnya terdapat lubang. Melalui lubang tersebut Anda melihat ke tempat yang terang. Mata yang tadi ditutup sekarang dibuka, lubang di dalam dasar tabung tadi kelihatan mengecil. Peristiwa ini disebut peristiwa entoptis.

V.        HASIL PERCOBAAN
1.   a.   Pupil pada bayangan mengecil
 b.  Percobaan mengecil pada saat mata dibuka
2.   a.   Pupil pada orang percobaan mengecil pada saat mata dibuka
b.   Dengan satu mata tertutup, orang percobaan melihat ke tempat yang terang pupil pada mata lain membesar, setelah mata dibuka ternyata pupil mata yang lain mengecil.
c.   Lubang pada dasar tabung mengecil sewaktu sebelah mata yang ditutup dibuka.

VI.       KESIMPULAN
Pupil secara otomatis akan mengecil apabila intensitas cahaya yang masuk ke mata terlalu banyak reaksi ini disebut dengan reaksi reflek pupil. Akomodasi terjadi bila melihat benda yang terletak dekat dengan mata, waktu akomodasi dan konvergensi reaksi pupil akan membesar. Dari hasil percobaan menunjukan bahwa orang percobaan menunjukkan mengalami reaksi reflek pupil.

VII.     APLIKASI
Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami apa yang disebut akomodasi dan konvergensi, serta kemampuan pupil untuk membesar dan mengecil, misalnya ketika kita lama berada di dalam bangunan atau ruangan yang intensitas cahaya kurang dan kita keluarga ruangan dengan intensitas cahaya terang, maka kita tidak dapat melihat dengan mata yang berada dalam keadaan normal melainkan harus melihat dengan menyempitkan mata.


Yogyakarta, 17 Oktober 2011
Praktikan,



Nilai          :

DAFTAR PUSTAKA


Bagian Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.1997. Buku Pedoman Praktikum Psikologi Faal II. Yogyakarta. Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

Ganong, W. F. 1983. Fisiologi Kedokteran. Bagian II. Edisi V. Jakarta: CV. EGC.

Guyton Arthur, C. 1983. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Bagian II. Edisi V. Jakarta : CV. EGC.

Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Terjemahan Sri Yulianti Handoyo. Jakarta : PT. Gramedia.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar